Antara Engineering dan Humanity

April 18, 2008

Indonesia adalah negara dengan banyak orang jenius di dalamnya. Masa? Bisa dicek dari betapa banyak medali olimpiade sains, teknologi, dan macam-macam yang diperoleh Indonesia di tingkat dunia. Perlu dicatat tingkat dunia. ICO, IMO, IPO, dll. Dahulu Institut Gajah Duduk termasuk dalam universitas terkemuka di dunia. Institut Gajah Duduk yang merupakan ikon perguruan tinggi terutama dalam science, engineering & art di Indonesia pernah jadi tempat belajar teknisi-teknisi dan guru besar negara-negara lain. Ya paling tidak beberapa dasawarsa yang lalu eksodus mahasiswa ASEAn ke institusi ini sangat deras. Gampangnya itu representasi bahwa kualitas pendidikan di negara ini paling tidak terbaik di kawasan Asia Tenggara. Sekarang ? Coba periksa data statistik atau data peringkat perguruan tinggi Indonesia di mata internasional. (Catatan : Perhatikan parameter penilaiannya)

Yang ingin disoroti adalah betapa lemahnya kontribusi perguruan tinggi terhadap penyelesaian masalah bangsa. Bidang yang disoroti adalah engineering. Ada yang salah? Mungkin ya … mungkin tidak. Pasalnya banyak sekali solusi engineering terhadap permasalahan bangsa yang tercetus dari kalangan akademis terkemuka negeri ini. Banyak solusi canggih dan wow sophisticated untuk berbagai masalah di Indonesia ini. Ehm tapi kok kayaknya gak ngena dan menyelesaikan masalah nya ya? Emangnya ide-ide itu dari siapa? Oh jangan salah.. Ide-ide tersebut dicetuskan oleh ahli-ahli engineering negeri ini. Lalu kok bisa gagal atau gak optimal sang solusi engineering ini. Mungkin dan hampir bisa dipastikan ada satu faktor yang dilupakan yaitu manusia. Manusia di sini baik dari segi sosial maupun individual.

Banyak sekali kasus di mana kita lupa ada komponen esensial yang butuh engineering lebih mengerti. Itulah manusia. Engineering di Republik ini cenderung mengedepankan kemegahan sains dan teknologi dibalut kecerdasan emosi akan seni. Tapi mengesampingkan ide esensial dari masalah yang dihadapi yaitu manusia. Manusia cenderung dipaksa untuk sesuai dengan teknologi. Padahal untuk apa teknologi atau engineering itu muncul. Sederhana dan sangat natural, saat manusia berhadapan dengan faktor lingkungan di luar dirinya, manusia berusaha untuk memanipulasi lingkungan tadi sesuai dengan keperluannya. Sepakat? Silakan kaji kembali kenapa engineering muncul. Intinya penyesuaian itu memang merupakan usaha manusia, namun maksudnya adalah untuk mendekatkan kepada manusia.

Dalam konteks ini, adalah sangat tidak cerdas suatu kedigjayaan teknologi di mana, suatu kerumitan sistem tidak dapat diakses oleh manusia pada umumnya. Tak bijak sat teknologi untuk kepentingan umum seperti jalan, jembatan, wc umum, ataupun industri modern mengesampingkan manusia, apalagi keselamatan publik.

Ya, saatnya terbuka untuk sesuatu yang lebih baik. Saat keangkuhan engineering membumi bersama humanity manusia.

Kebenaran adalah Esensi Pencapaian Ilmu Sejati.

Benar dan Salah tak terbangun Premis yang statis.

Karena

Entry Filed under: Sains, Teknologi & Art. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts