Jeritan BBM si Budi Kecil
May 31, 2008
Inget lagu Iwan Falls yang ada liriknya si Budi Kecil menggigil gitu lah, punten Kang Iwan kalau liriknya agak-agak salah. BBM naik lagi, benarkah naik kayaknya lebih cocok dibilang ganti harga deh. Fenomena di sebuah pangkalan minyak tanah di bilangan Sukaleueur, Kopo, Bandung. Si Budi, bocah itu terlihat berpeluh diterpa mentari siang bulan Mei di Kota Bandung. Ada apa Budi? Budi adalah si anak sulung Bu Imas, seorang pedagang gorengan di sekitar pasar Astana Anyar Bandung. Budi baru kelas 5 SD, dan dia punya cita-cita ingin menjadi seorang polisi. Siang itu, Budi sedang mengantri membeli minyak tanah untuk keperluan kompor minyak Ibunya. Ibu Imas seorang janda dengan 4 orang anak, suaminya meninggal dunia akibat kecelakaan truk di kawasan Subang. Sontak Bu Imas harus berjuang membesarkan 4 orang anaknya, tak berlebihan rasanya, Bu Imas adalah pahlawan yang berusaha membesarkan dan mendidik si Budi kecil dan ketiga adiknya.
Budi mendapatkan 3 liter minyak tanah dengan harga Rp. 3.500,00. ” Di warung si Abang mah tiasa Rp. 4.000,00 saleter A, janten mendingan di dieu atuh.”, kata Budi dengan senyum polosnya. Tapi ucapan bocah kecil itu terngiang di telinga saya. Karena merasa penasaran, saya coba telisik lebih jauh. Siang itu kebetulan Bu Imas, baru selesai berdangang di kios kelontongnya di sekitar pasar. Kebetulan saya mengenal keluarga Bu Imas, salah satu Ibu yang rajin ke pengajian Subuh. Subahanallah, Saya kagum betul dengan beliau. Saya jadi rindu dengan Ibu saya. Dia bercerita soal sulitnya hidup sekarang, sekolah mahal, sembako mahal, dan lain-lain yang harganya murah untuk pendapatan di atas 20 juta perbulan (ngasih pertimbangan UMR Bandung sekitar 800ribuan per bulan). Dia bilang kalo BBM naik bisa kolaps perekonomian keluarga janda 4 anak ini. Bayangin belum naik aja, harga terigu dah melejit, belum minyak goreng yang merupakan nyawa usahanya. ” Cobi, rakyat teh kedah kumaha , Cep? Kirang-kirang na mah pamarentah urang mah ngan paduli ka jalmi ageung, anu ngagaraksak kahirupan rakyat leutik. Mana jangjina pa SBY teh? Ayeuna mah anging Allah anu uninga kana jangji, sareng cariosan pamarentah teh. Da Ibu mah rumaos jalmi Bodo”. Itu perkataan Bu Imas,ada yang gak ngerti baik saya terjemahkan deh , “Coba, rakyat harus bagaimana, Dik? Pemerintah kita hanya peduli kepada orang gedean, yang merusak kehidupan orang-orang kecil. Mana Janji Pak SBY? Sekarang hanya Allah yang tahu janji sama omongan pemerintah kita. Ibu merasa orang bodo.” Satu hal yang pasti, pemerintah untuk mengalihkan ketergantungan BBM menjadi gas LPG tidak sampai ke rakyat yang seharusnya membutuhkan, paling tidak keluarga Bu IMas.
Lalu BBM naik, apakah ada dampak positifnya buat bangsa Indonesia. Hmm mari kita sama-sama fikirkan. Saya ingin memberikan sudut pandang seorang Shidqy Aufa Hadian yang Alhamdulillah dapat kesempatan mengkaji soal BBM ini tahun lalu,(walaupun kurang optimal).Terhadap kenaikan harga BBM, ini intrepretasi saya berdasarkan data, persepsi beberapa dosen dari beberapa prodi di ITB, beberapa pejabat ESDM, alumni, termasuk persepsi saya pribadi.
BBM atau bahan bakar minyak ini terdiri dari minyak tanah, solar, pertamax, avtur, dll. (intinya bahan bakar yang termasuk derivat dari minyak bumi tapi dalam fasa cair berbentuk minyak, tidak termasuk gas alam cair ataupun LPG). Lalu mengapa ini bermasalah? Hmm tolong difikirkan lagi secara teknis dengan pengambilan minyak bumi sebersar 1 juta barrel dari dalam bumi Indonesia, diperkirakan cadangan minyak Indonesia akan bertahan tak lebih dari 17 tahun (dengan asumsi tidak ada lompatan teknologi berarti untuk meningkatkan teknologi eksplorasi dan lifting minyak). Mengapa bermasalah, apabila kita berfikir secara logis. Semua bencana ini terjadi karena beberapa hal, antara lain adalah kepemilikan dominan perusahaan asing terhadap ladang minyak bumi Indonesia (yang diperhalus dengan aneka kontrak), dan ketergantungan bangsa Indonesia yang sangat tinggi terhadap minyak bumi. Secara hukum ekonomi, apabila ketergantungan tinggi terhadap suatu barang, maka tingkat permintaan akan tinggi, dan harga barang tersebut akan tinggi, apalagi ditambah dengan jumlahnya yang terbatas (minyak bumi adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui).
Gila memang, BBM adalah suatu candu yang sangat berbahaya yang harus diwaspadai. Dan yang Kami minta inilah akar permasalahan yang paling fundamental terhadap kenaikan harga BBM. Tingakat produksi Indonesia adalah 1 juta barel per hari, di mana sebagian besar produksi minyak (lifting minyak mentah) dilakukan oleh multi national corporation (MNC). 400 ribu barel diolah di kilang untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional, dan 600 ribu lainnya diekspor sebagai minyak mentah. Kebutuhan minyak bumi yang telah diolah (BBM) adalah 800 ribu barel. Dan minus 400 ribu barel BBM kita impor dari luar baik berupa minyak mentah maupun BBM. Gila? Ya, secara kasat mata minyak bumi Indonesia dijual dengan harga US$ 120/ barel dan dalam bentuk minyak mentah, dan kita harus membeli BBM dengan volume cukup besar. Hmm, ini tidak logis secara ilmiah, sehingga pemerintah untuk subsidi BBM harus menganggarkan ratusan triliun dana APBN.
Wow ini fenomena bangsa kita! Coba fikirkan ! Renungkan! Saatnya Bergerak Kawan! Dengan Itikad untuk Indonesia Yang Lebih Baik! Bangun, Kita Orang Kuat!
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater!
Salam Ganesha!
Entry Filed under: Nasional. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed