Super Supreme itu Namannya Media
June 9, 2008
Wah.. Ada yang ikut perkembagan berita di koran, televisi, radio, beberapa hari terakhir. Hmm… Minggu lalu gini kurang lebih bunyinya:” Sekelompok … memprotes kebijakan pemerintah (kabinet SBY-JK) menaikan harga BBM sebesar 30 %. Aksi demo menentang kenaikan harga BBM merebak di seantero nusantara.” Wow tiba-tiba seabrek perhatian kita tertuju pada kenaikan BBM seolah dicitrakan betapa tirannya pemerintah yang menaikkan harga BBM ditengah himpitan krisis, dan betapa tersungkurnya wong cilik dan proletar di negeri ini. Hmm.. seolah semua orang ingin berfikir soal gimana kebijakan energi nasional Indonesia. Pokoknya heboh lah Kenaikan harga BBM dan implikasinya mewarnai sebagian besar media nasional.
Terus gak lama isu teralih pada sekelompok mahasiswa universitas “X” yang melakukan tindakan anarkis terhadap aparat kepolisian. Sontak berita ini pun jadi geger dan bikin kuping para rektor, dan pejabat tinggi negara panas. Kemudian tercitrakan seolah mahasiswa mengusung aksi-aksi yang ditunggangi elitis nasional, aksi demonstrasi sama dengan anarkis, dll. Hmm di sini sejenak publik memalingkan fokus dari permasalahan BBM ke permasalaha n kaum pemuda dalam hal ini mahasiswa. Banyak tokoh berkomentar dan mengeluarkan berbagai macam statement.
Ngak lama dari itu, sekarang konflik SARA dihadirkan sebagai menu utama media nasional. Tajuknya Penyerangan FPI di kawasan Monas terhadap AKKBB. Di sini dicitrakan bagaimana tindakan anarkis FPI yang seolah mengganggu kerukunan antarumat beragama. Lagi-lagi berita ini mengubah fokus publik nasional menjadi permasalahan anarkisme dan SARA. Hmm coba ditelisik lagi, ada apa di balik semua ini. Mengapa ada suatu antiklimaks dari permasalahan yang menyebabkan orang beralih pada permasalahan yang lain?
Ada suatu antitesa politik menjatuhkan kredibilitas pihak lain untuk suatu sintesis membentuk keseimbangan politik. Mengapa ada kecenderungan untuk menjatuhkan sesuatu yang mapan?
Hmm … hanya sedikit berfikir bagaimana dalam tempo yang singkat itu berbagai isu dapat berubah. Kemajuan teknologi informasi salah satu yang mempengaruhinya. Teori pertahanan modern mulai mengarahkan pada 4 elemen yang sangat fundamental terhadap pertahanan dan ketahanan suatu negara. Elemen tersebut adalah pangan, energi, teknologi, dan media.
Entry Filed under: Pemikiran. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed