Supremasi Ekonomi Indonesia! Untuk Indonesia yang Lebih Baik
June 24, 2009
JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, perlakuan yang dialami oleh tenaga kerja Indonesia di Malaysia, Siti Hajar, sudah di luar batas kemanusiaan. Presiden Yudhoyono meminta agar mantan majikan Siti mendapat ganjaran hukum yang setimpal.
”Hal yang dialami Siti Hajar merupakan sesuatu yang di luar batas kemanusiaan. Saya sungguh prihatin. Oleh karena itu, saya sudah menginstruksikan sesuatu kepada duta besar kita di Malaysia, Da’i Bachtiar,” kata Presiden Yudhoyono dalam keterangan persnya di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Kamis (11/6).
Menurut Presiden, ia juga sudah menugasi Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat untuk mengambil langkah-langkah yang semestinya agar hukum dan keadilan dapat ditegakkan.
Presiden juga sudah mendapatkan informasi tentang sikap dan perlakuan Kepolisian Malaysia soal nasib yang menimpa Siti dari Da’i Bachtiar. ”Mereka dinilai cukup responsif dan kooperatif menangani kasus Siti Hajar itu. Media di Malaysia juga mengangkat berita yang memprihatinkan ini dengan sudut pandang yang positif,” kata Presiden.
Untuk menenangkan hati Siti, Presiden Yudhoyono mengaku sudah berbicara langsung dengannya melalui telepon. ”Saya beri tahu, kita semua, saudara-saudara di Indonesia, ingin Siti dan semua saudara-saudara kita yang bekerja di luar negeri mendapatkan bantuan-bantuan dan perlindungan semestinya,” tutur Presiden.
Deteksi dini
Agar kasus penganiayaan terhadap tenaga kerja Indonesia tidak terulang lagi di Malaysia, Presiden Yudhoyono juga telah menginstruksikan Da’i Bachtiar dan Jumhur Hidayat untuk segera membangun satu sistem yang bisa secara efektif dan cepat mengetahui kasus-kasus seperti yang dialami oleh Siti Hajar untuk ditindaklanjuti.
”Tidak baik situasi jika seperti itu terus berulang-ulang dan kejadiannya baru ketahuan setelah sekian lama. Diperlukan ketekunan dan kerja sama yang baik antara pihak Indonesia dan negara tuan rumah berkaitan dengan penegakan hukum. Saya akan mengecek sejauh mana upaya kita bisa membentuk semacam deteksi dini itu atas kejadian yang menimpa para tenaga kerja kita,” papar Presiden.
Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia Tatang B Razak yang dihubungi dari Jakarta mengatakan, pihak KBRI di Malaysia sudah menyiapkan penasihat hukum lokal untuk mendampingi Siti Hajar.
”Kami juga sudah mengambil gaji Siti sebesar Rp 51 juta yang selama ini tidak dibayar majikan. Kami tetap memantau pemulihan fisik dan psikis Siti,” ujar Tatang. (har/ham)
Sumber : Kompas Cetak
Marilah sejenak kita renungi artikel mengenai kasus Siti Hajar tersebut. Bagaimana penderitaan yang dialami oleh Siti Hajar, dan jutaan TKI lainnya di seantero dunia ini yang mungkin mengalami nasib yang tidak mengenakan (penyiksaan, kekerasan fisik, perlakuan yang tidak manusiawi, atau paling tidak apa yang mereka alami jauh di bawah ekspektasi mereka). Saat ini media menyoroti perlakuan semena-mena warga negara Malaysia terhadap TKI asal Indonesia, dan bagaimana TKI dieksploitasi sebagai karakter yang tertindas.Mengapa saya bilang dieksploitasi, karena tidak ada langkah proaktif (preventif) yang cukup efektif apalagi efisien untuk mencegah perlakuan buruk terhadap TKI kita. Dan kita hanya mempermasalahkan symptom yang terjadi, penyiksaan terhadap TKI kita. Lantas Kita menebar simpati, dan kepedulian ala kadarnya.
Kepedulian ala kadarnya? Intinya semua simpati kita, apakah mengubah nasib para TKI tersebut. Hmmm… nampaknya tidak ada perbedaan signifikan nasib para TKI yang lebih baik. Ada gula ada semut, hal ini nampak berlaku pula pada konteks ketenagakerjaan. Dimana ada suatu lapangan kerja yang menjanjikan “kesejahteraan ekonomi” maka di situ akan bayak semut tenaga kerja di situ. Lantas satu PR yang penting , apakah tidak cukup gula itu ada di negara kita, atau gula itu juga bukan untuk tenaga kerja lokal.
Saya ingin mengajak segenap bangsa Indonesia untuk bangun… Kalau kita harus ditampar, maka tamparan itu lah yang membuat semangat kita terlecut. Kita bodoh, saatnya kita belajar, Kita miskin, saatnya kerja keras dan kerja cerdas. Saatnya kita membuat gula itu untuk bangsa kita, dan harapan saya, no more Siti Hajar! Kembalikan martabat bangsa kita….
Untuk Indonesia Jaya
Entry Filed under: 1. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed